Roti yang Berjamur
Roti yang Berjamur
“Ini permen agar tidak mengantuk,” kata-kata Acong itu membuat saya naik darah. Dia pria yang polos tapi pelit. Dia selalu menyimpan banyak roti dari Pepito di dalam lokernya dan memberikan kami satu permen. Padahal kami selalu memberikan makanan yang enak di kelompok.
Seminari Roh Kudus Tuka tempat saya dibesarkan menjadi seorang pastor benyak terdapat keunikan. Salah satunya yang kutemukan ada dalam diri Acong.
Acong adalah pria kulit putih, pipi tembam, perut buncit, mata sipit dan alis tipis. Cara berjalannya seperti model papan atas. Dia selalu membawa dompet hitam yang berisi uang sebesar Rp 2.000. Tapi sebenarnya, dia menyisipkan banyak lembaran Rp 100.000 di kantong kecil dompetnya.
Di asrama Seminari Roh Kudus Tuka, pada Minggu ke empat dalam bulan, kami biasanya diizinkan untuk keluar asrama membeli kebutuhan MCK, jajan dan lain-lain. Batas waktu yang diberikan Pastor kepada kami dari jam 08.00 wita -15.00 wita.
Pada waktu di asrama, saya hanya diberi bekal Rp 100.000 oleh orangtua saya. Bagi saya itu cukup untuk memberi sabun mandi, diterjen, dan sedikit makanan ringan untuk kelompok meja makan saya.
Rute para seminaris (siswa-siswa asrama seminari) yaitu wilayah HR. Sesungguhnya namanya bukan HR. Tapi di sana ada manara yang menyebutkan HR. Maka dari itu, kami anak asrama dari berbagai generasi sering menamakan tempat itu HR.
Di HR ada banyak hiburan, saya biasanya bermain PS2 bersama teman asrama. Satu jam bermain PS di HR dipatok dengan harga Rp 3.000/jam. Begitu pula dengan bermain di warnet.
Ketika saya menuju HR, saya dan teman saya Arif melihat Acong sedang duduk makan di JFC. Waw... bagi saya makan di sana hanya untuk anak orang kaya. Saya pikir dia tidak punya uang karena dia mengaku kepada saya bahwa dia tidak punya uang.
Saya dan Arif memutuskan untuk mendekati Acong. Seperti melihat setan pada siang hari, Acong terkejut melihat kami berdua.
“Kok bisa beli ayam JFC?” Kata saya.
“Sa,,saya..saya dikasi uang sama orang tadi.” Tapi orangnya sudah pergi.” Kata Acong dengan suara agak terbata-bata.
Acong sebenarnya adik kelas kami, dia duduk di KPB (Kelas Persiapan Bawah) sedangkan saya dan Arif kelas XI SMA. Menurut tradisi asrma, adik kelas harus menghormati kakak kelas dan tidak boleh membohongi kakak kelas. Tapi Acong agak berbeda.
Saya dan Arif merasa jengkel di situ. Dia selalu saja meminta makanan kepada saya. Tapi, dia tidak pernah membalasnya. Ingin sekali saya menghantam mulut yang masih mengunyah ayam JFC. Tapi saya tidak enak dengan pelayan JFC.
Saya dan Arif memutuskan pergi ke warnet yang lokasinya tidak jauh dari JFC. Kebetulan pada waktu itu, saya mau membuat tugas sekolah. Jadi saya menyempatkan diri mengerjakan tugas saya di warnet.
Sepulang dari warnet, kami melihat Acong kembali membeli roti di Indomaret. Dia juga membeli wafer, biskuit, dan minuman bersoda. Saya menjadi heran. Dari mana ia mendapatkan uang untuk membeli semuanya?
Tapi saya senang, karena Acong satu kelompok meja makan dengan saya. Saya sangat berharap dia menyumbangkan makanannya di meja kelompok kami pada makan malam.
Kami makan malam pukul 19.00 wita. Pada malam itu, kami semua mengeluarkan makanan kami. Saya mengeluarkan kecap ABC, keripik peyek, kacang tic-tack, kacang boby, keripik lays kentang dan sanck kuda mas. Semua teman-teman kelompok saya juga mengeluarkan makanan mereka masing-masing untuk diletakkan di meja dan diatur oleh ketua kelompok untuk penyimpannya agar tidak cepat habis.
Kami semua sudah menaruh makanan kami. Tapi, Acong belum menaruh makanannya di atas meja untuk disumbangkan.
“Acong,,! Mana makananmu?” saya meminta untuk mengambil makanannya.
“Baiklah kak, tunggu di sini dulu. Saya mau ambil.”
Wahhh....mantap ini!!! Acong pasti akan membawa rotinya, snack dan minuman bersodanya. Kata saya di dalam hati.
Tapi harapan saya putus di tengah jalan.
“Ini permen agar tidak mengantuk.” Kata Acong dengan senyumannya semanis madu.
Dasar berengsek!!! Kata saya dalam hati, padahal dia membeli banyak makanan. Saya sangat jengkel. Dasar pelit ini orang!! Dia memberi saya, Nembos, Mikael, dan Jecky masing-masing satu permen kopiko.
“Hanya ini saja Cong? Lebih baik tidak usah nyumbang.” Kata Jecky dengan wajah seperti singa yang hendak menerkam mangsanya.
“Saya tidak ada uang kak Jecky, maka saya beli permen saja.” Kata Acong.
“Bohong kamu Cong, saya lihat kamu beli roti, wafer sama coca-cola di Indomaret. Lihat..!! kami sudah nyumbang banyak. Masak kamu nyumbang lima permen aja.!” Kata saya dengan penuh emosi.
Saya sudah tidak tahan lagi. Ingin saya melemparkan termos nasi kewajahnya. Tapi saya sadar, jika berkelahi di asrma saya pasti dikeluarkan. Saya memutuskan untuk memberikan permennya kembali dengan menampilkan wajah muram.
Di asrama kami tidur malam pukul 21.30. Pukul 21.00 kami terlebi terlebih dahulu doa malam. Pada waktu jam tidur malam pukul 21.45, saya mencuci muka dan menggosok gigi. Saya turun ke lentai dasar karena loker saya ada di lantai dasar.
Saya melihat lampu di ruangan loker dasar lantai menyala. Anak seminaris biasanya jam 21.45 sudah ada di tempat tidur agar bisa bangun pagi jam 04.45 pagi dengan wajah segar. Tapi, kali ini agak berbeda. Lampu ruangan loker menyala. Pasti ada orang di dalam ruangan loker.
Saya akhirnya turun karena saya ingin mengambil sabun muka. Saya mendengar suara orang yang sedang makan keripik. Kriukk...keriukk..keriukk. Wah ini kesempatan saya untuk masuk. Rejeki tidak boleh dihindari. Saya pasti bisa makan karena di seminari harus saling berbagi.
Saya sangat terkejut melihat Acong yang sedang makan di dalam ruangan loker. Dia sengaja menunggu anak seminari tidur agar dia dapat menikmati snacknya sendiri.
Ketika saya melihat dia, saya langsung mendekatinya dan meminta makanannya. Yah... anggap saja ini aksi memalak. Dengan wajah malu dan jengkel, dia membagikan makanannya kepada saya dengan berat hati. Kami duduk berdua di ruangan loker sedangkan ditengah-tengah kami ada wafer, kripik kentang, roti dan coca-cola. Dengan cepat saya meningkatkannya.
Acong kawatir saya lebih banyak makan. Maka dengan secepat kilat ia menggenggam makanan. Kami seperti dua orang yang sedang mengikuti kejuaraan lomba makan. Tangan kami tidak mengambil satu batang wafer tapi lima sekaligus dan memasukannya ke dalam mulut.
Saya melihat wajah Acong layu seperti sayur yang terkena sinar matahari. Saya tertawa di dalam hati sambil berkata. “Kapok kamu, makannya jangan pelit.”
Saya menceritakan kejadian tersebut di kelas keesokan harinya. Teman-teman saya tertawa terbahak-bahak. Kami memutuskan untuk mengadakan operasi mata-mata. Kami mengintainya jika dia ke loker. Kebetulan ruangan kelas tidak jauh dari ruangan kamar dan loker karena masih dalam satu lingkup asrama.
Pada jam istirahat, kami menyusul ke loker. Tapi Acong sudah melihat kami. Dia berpura-pura menyisir rambut sambil mengintip kami. Tatapan yang tajam seperti elang mengamat-amati kami. Saya yakin jika kami keluar pasti dia langsung mengambil makanan di loker dan makan sendiri.
Tapi Acong orang yang gigih, sampai jam masuk kelas dia tidak membuka lokernya. Saya memutuskan untuk memata-matainya pada jam tidur malam. Saya yakin jam tidur malam pasti dia gunakan untuk makan di loker sendirian.
Saya dan teman saya berpura-pura tertidur. Tempat tidur saya di lantai dua dan saya duduk di kasur atas dan teman saya Jecky di kasur bawah. Tempat tidur kami 2 tingkat dengan bahan kayu jati yang tentunya bisa menopang diri saya termasuk Agung anak seminari tergendut.
Pada pukul 22.00 wita, saya memberi kode kepada teman saya untuk turun ke ruangan loker. Benar sekali, Acong yang ruangan tidurnya di lantai dasar menuju loker. Saya yakin dia pasti mau makan sendiri. “Dasar….pelit! Awas kau!!Belum tahu bahwa saya itu bajak darat!”
Saya dan teman saya bersembunyi di balik tembok taman belakang di samping ruangan loker sambil mengintip di jendela loker. Saya melihat tangan imut si Acong membuka loker. Tapi sayang dia mencurigai kami karena teman saya Toni tertawa cekakak-cekikik. Toni memang orang yang tidak bisa menahan tawa. Saya sendiri sebenarnya menyetujuinya. Tapi karena dia termasuk romantis alias rombongan makan geratis maka dari itu Toni juga ikut serta.
Acong menutup lokernya setelah mengetahui kami. Hampir satu bulan kami terus memata-matai Acong. Tapi, tidak membuahkan hasil. Akhirnya kami memutuskan untuk membuka lokernya diam-diam.
Saya sebenarnya kawatir karena di ruangan loker terdapat cctv yang langsung mengarah ke loker Acong. Saya khawatir Pastor Wodha melihat kami di cctv. Kami sebenarnya tidak mencuri. Kami hanya penasaran. Kami ingin mengetahui isi loker Acong.
Pada malam minggu waktu jam rekreasi, kami mencoba untuk membuka loker Acong. Kami menggunakan waktu rekreasi karena rekreasi para seminaris tidak ada jam pembelajaran pribadi di kelas. Dari jam 19.00-21.30 para seminaris dapat bermain badminton, keruang lab. komputer, menonton film dengan layar LCD, bermain musik dan lain-lain.
Kebetulan, kunci loker Acong tergantung di pintu lokernya. Saya membuka lokernya. Lokernya sangat bau karena baju-baju Acong yang sudah dipakai menumpuk seperti Gunung Agung di bagian bawah loker.
Saya tidak melihat roti di dalamnya. Tapi saya curiga dengan tumpukan baju-baju itu. Saya dan Toni mencoba mengungkapnya. Kami sangat terkejut karena ada roti yang sudah berjamur di tumpukan baju itu.
Sialan Acong! Ada baiknya dia membagi roti itu dari pada berjamur. Mungkin karena dia takut kami meminta rotinya maka dari itu dia menyembunyikannya di dalam tumpukan baju.
Tuka, 14 Agustus 2013
Albertus Yoram Diri
Comments
Post a Comment